Jumat, 23 oktober 2020

Webinar Seminar Nasional UNSUR - UNIDA

Webinar  Seminar Nasional UNSUR - UNIDA

Webinar  Seminar Nasional UNSUR - UNIDA

Sabtu, 10 0ktober 2020, Faster UNSUR mengadakan Seminar Nasional bertemakan : Peran Serta Akademisi dan Praktisi Pertanian dalam Menghadapi New Normal Pandemi Covid -19.

Seminar Nasional ini bekerjasama dengan Universitas Islam Djuanda Bogor

Seminar online yang dihadiri sekitar 350 peserta ini juga dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Dr. Paristiyanti Nurwardani, MP dan Rektor Unida Dr. Dede Kardaya dan dipaparkan sejumlah inovasi teknologi pertanian yang dilakukan dari para dosen dan dari perguruan tinggi lain.

“Sudah seharusnya akademisi perguruan tinggi berkontribusi dalam inovasi teknologi pertanian untuk ikut mengatasi masalah pandemi covid-19, seperti dalam produk empon empon untuk antasipasi dan penyembuhan dari covid-19,” kata Rektor Universitas Suryakancana Cianjur Prof. Dwidja Priyatno, SH., MH., SP.n saat membuka Webinar Seminar Nasional bekerjasama dengan Universitas Islam Djuanda Bogor (10/10).

“Pasar pertanian, seperti umbi-umbian, sayuran dan ternak unggas mengalami penurunan, harga jualnya di tingkat petani menurun dibanding sebelum pandemi covid-19,” ungkap Pemimpin Redaksi Tabloid Sinar Tani Ahmad Soim saat menyampaikan materinya tentang “Potret Pertanian pada masa Pandemi Covid-19.

Dijelaskannya pada masa pandemi covid-19, sektor pertanian mampu tumbuh positif pada saat sektor lain tumbuh secara negatif. “Pada Triwulan II Tahun 2020, PDB sektor pertanian tumbuh positif 16,24 persen  pada saat PDB nasional negative 4,19 persen dan sektor lainnya tumbuh negatif. “NTP atau nilai tukar petani secara nasional juga rata rata di atas 100,” tambahnya.

Namun demikian di lahan usaha taninya didapati petani yang rugi karena harga jual pertaniannya jatuh, seperti yang dialami petani sayuran, umbi-umbian dan ternak unggas ayam ras. Penurunan ini terjadi karena daya serap konsumen menurun karena penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan work from home (WFH).

“Dari data hasil survai yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) banyak pekerja yang terkena PHK, dirumahkan. Yang masih bekerja, 62 persen renponden melakukan WFH. Banyak restoran dan hotel yang tutup karena PSBB. Makanya petani perlu menyesuaikan produksinya dengan kondisi pasar ini,” jelasnya.

Bisnis pertanian yang menggeliat pada masa Pandemi Covid-19 adalah usaha tani dan pengolahan empon empon dan urban farming (pertanian perkotaan) seperti hidroponik. “Termasuk banyak dijajakan di pemasaran online kalung eucalyptus (minyak kayu putih) untuk pencegahan covid-19,” tambah Ahmad Soim.

Ada  4 langkah kunci  sukses bertanam sayuran dan empon empon di lahan sempit/pekarangan atau disebut urban farming. Dr Nurjaya Dosen Universitas Suryakancana  dan praktisi Urban Farming menjelaskan 4 langkah kunci sukses tersebut adalah pertama, pengolahan tanah/media tanam (30 persen). Kedua,  pemakaian benih & bibit ( 30%). Ketiga, pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan susulan, perempelan, penalian, pengendalian hama dan penyakit/opt serta panen (30%). Keempat, pecinta tanaman (10%).

Tiga Inovasi Teknologi

Pada webinar seminar nasional ini juga dipaparkan tiga inovasi teknologi pertanian. Pertama, tentang teknologi monitoring serangga hama pada kangkung darat  di masa pandemi covid-19. Disampaikan oleh Dr. Sri Nur Aminah Ngatimin dari Universitas Hasanuddin Makassar. Penelitian ini dilakukan bersama dengan Prodi Agroteknologi, Fakultas Sains Terapan Universitas Suryakancana, Cianjur, Jawa Barat.

Menurutnya hasil panen tanaman kangkung sangat dipengaruhi oleh adanya gangguan serangga.  Yellow trap merupakan teknik  monitoring arthropoda yang umum  digunakan danmudah aplikasinya. “ Tujuan penelitian ini untuk mempelajari potensi perangkap kuning sebagai alat monitoring ramah lingkungan pada budidaya tanaman kangkung darat di masa pandemi covid-19. Manfaatnya petani dapat memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan baku perangkap kuning.

Kedua, inovasi tentang aktivitas antibakteri ekstrak kasar alga/ ganggang sargassum sp. dari pantai Sayang Heulang, Garut, Jawa Barat oleh Dr. Windy Widowaty Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Al- Ghifari, Bandung. Ditemukan banyak senyawa yang berguna untuk Kesehatan bahkan pengobatan. Windy contohkan senyawa bioaktif yang dihasilkan dari ekstrak makroalga adalah polisakarida,  di antaranya galactan bisa untuk anti tumor. Fucoidan untuk antiinflamasi (anti radang), anti tumor, antioksidan.  Laminarin untuk  prebiotik, antibakter. Alginat untuk antibakteri, anti inflamasi (anti radang).  

Ketiga, inovasi tentang program holistik pembinaan dan pemberdayaan desa (PHP2D) yakni penerapan teknologi yumina, bioproses budidaya tanaman herbal dan olahan pangan fungsional di Desa Harkatjaya, Kabupaten Bogor yang terdampak pandemi covid-19 dan bencana alam.

Dosen Unida Ir. Nur Rochman, MP yang melakukan kegiatan ini mengatakan budidaya yumina merupakan budiaya sayuran dan ikan dalam satu media dimana pada pelaksanaannya dapat dilakukan seperti budidaya ikan dalam ember (budikdamber).

“Kami juga diseminasikan kepada masyarakat tanaman herbal yang memiliki segudang manfaat dan dapat berfungsi sebagai obat tradisional, selain untuk obat dapat digunakan untuk rempah bumbu dapur dan juga dapat di inovasikan dalam bentuk produk atau sebagai pangan fungsional.

“Kegiatan PHP2D dan setiap program yang dirancang kita harapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kembali perekonomian masyarakat desa Harkatjaya yang terkena dampak longsor dan covid-19 melalui pelatihan dan kelembagaan mengenai budidaya yumina, tanaman herbal dan pengolahan pangan fungsional dan hasil pertanian,” tambahnya.




Berita Lainnya